Azab Kubur

08/06/2026| IslamWeb

Diriwayatkan dari `Aisyah  may  Allaah  be  pleased  with  them bahwa seorang perempuan Yahudi berkunjung kepadanya dan bercerita tentang azab kubur, lalu berkata kepadanya: “Semoga Allah melindungimu dari azab kubur.” Maka `Aisyah bertanya kepada Rasulullah Shallallâhu`alaihi wasallam tentang azab kubur. Beliaupun menjawab: “Ya, azab kubur.” `Aisyah  may  Allaah  be  pleased  with  them berkata: “Maka setelah itu, aku tak pernah melihat Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention melaksanakan shalat melainkan selalu memohon perlindungan dari azab kubur (di akhir shalat beliau).” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].

Dalam hadits ini terdapat beberapa perkara:

Perkara pertama: Makan kalimat

Perkataannya: Seorang perempuan Yahudi berkunjung kepadanya”, dalam riwayat Al-Bukhari, dalam kitab Ad-Da`awat: “Dua orang perempuan tua dari para perempuan tua Yahudi Madinah berkunjung (kepada `Aisyah) lalu berkata: ‘Sesungguhnya ahli kubur itu diazab di kubur mereka.’ Perkataan di atas dimaknai bahwa salah satu dari keduanya berkata lalu yang lain membenarkan, sehingga perkataan tersebut dinisbatkan kepada keduanya. Dalam salah satu riwayat: “Maka `Âisyah pun mendustakan (perkataan) mereka berdua.” Dalam riwayat Muslim, `Âisyah berkata: “Seorang perempuan Yahudi berkunjung kepadaku, lalu ia berkata: ‘Apakah engkau tahu bahwa kalian akan diazab di alam kubur?’ `Aisyah menjawab: ‘Maka Rasulullah pun tegang, lalu bersabda: ‘Sesungguhnya Yahudilah yang diazab.’ `Aisyah berkata: ‘Lalu kami melalui beberapa hari, hingga Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda: ‘Apakah kalian tahu bahwa telah diwahyukan kepadaku bahwa kalian akan diazab di alam kubur?!’” `Aisyah berkata: “Maka akupun mendengar Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention selalu memohon perlindungan dari azab kubur.” [Fathul Bari].

Masalah Kedua: Kebenaran Azab Kubur

Banyak sekali dalil-dali dari Al-Quran, Sunnah dan Ijmak Umat dari kalangan shahabat dan Tabi`in—serta mereka yang berjalan di atas jalan mereka—tentang adanya azab kubur. Tidak ada yang mengingkarinya selain kelompok Muktazilah, terutama pemuka mereka Bisyr Ibn `Ali Al-Mirrisi. Mereka berdalil dengan syubhat-syubhat (kesangsian-kesangsian) yang—menurut ulama —lebih lemah daripada jaring laba-laba, yaitu:

1. Firman Allah (yang artinya): “Mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya kecuali mati di dunia...” [QS. Ad-Dukhan: 56]. Mereka berkata: Kalaulah mereka tetap hidup di alam kubur niscaya mereka akan merasakan dua kali kematian, bukan satu kali.

2. Firman Allah (yang artinya): “Dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar.” [QS. Fathir: 22].

3. Mereka juga memiliki beberapa syubhat yang terkesan “logis”. Mereka berkata: Kita melihat sendiri seorang yang mati disalib. Mayat orang tersebut tetap dalam keadaan tersalib hingga anggota-anggota badannya lenyap (rusak atau lenyap dimakan burung pemakan bangkai), namun kita tidak melihat di sana adanya penghidupan kembali dan pertanyaan-pertanyaan Malaikat.

Jawaban atas syubhat-syubhat mereka:

Pertama: Ayat pertama di atas berbicara tentang sifat-sifat penduduk Surga dan nikmat-nikmat yang mereka peroleh di sana serta kehidupan yang abadi.

Kita katakan kepada mereka untuk menekankan makna di atas yaitu kehidupan ahli kubur. Karena Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda dalam sebuah hadits: “Sesungguh roh orang beriman adalah tha’ir (sesuatu yang terbang) yang makan di pepohonan Surga, sampai Allah mengembalikannya kepada jasadnya pada hari Dia membangkitkannya.” [HR. Ibnu Majah dan Ahmad. Menurut Al-Albani: Shahih]. Hadits ini menunjukkan bahwa roh orang-orang beriman berada di dalam Surga, di dalam rongga burung berwarna hijau. Di antara mereka adalah para syuhada, karena mereka termasuk orang-orang beriman. Allah berfirman tentang mereka (yang artinya): “Dan janganlah kalian mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (bahwa mereka itu) telah mati; tetapi (sebenarnya) mereka itu hidup (dalam alam lain yang bukan alam kita) tetapi kalian tidak menyadarinya.” [QS. Al-Baqarah: 154].

Lihatlah firman Allah  (yang artinya): “Tetapi (sebenarnya) mereka itu hidup”, apakah kalian wahai orang-orang yang mengingkari azab dan nikmat kubur, bisa merasakan kehidupan itu?!

Jawaban atas syubhat kedua:

A. Firman Allah (yang artinya): “Dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar.” [QS. Fathir: 22] adalah penafian tentang kemampuan Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention menjadikan mereka dapat mendengar, tetapi hal itu bukan perkara mustahil bagi Allah. Jika berkehendak, Allah menjadikan mereka mendengar, sebagaimana Dia telah menjadikan mereka yang terkubur di balik tanah Badr dapat mendengar. Karena Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda kepada mereka: “Apakah kalian mendapatkan kenyataan dari janji Tuhan kalian kepada kalian?” [HR. Al-Bukhari].

B. Ayat tersebut tidak menafikan kemampuan mendengar mereka secara mutlak, tetapi menafikan kemampuan mereka mendengar untuk menjawab, sebagaimana disinyalir dalam hadits tentang orang-orang musyrik yang terbunuh di medan Badr, bahwa Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda: “Demi (Rabb) Yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah kalian lebih mendengar apa yang aku katakan daripada mereka (orang-orang kafir yang telah mati itu), tetapi mereka tidak mampu untuk menjawab.” [HR. Muslim].

Hal ini mirip dengan firman Allah tentang orang-orang kafir (yang artinya): “Ia mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya lalu ia tetap menyombongkan diri seakan-akan ia tidak mendengarnya. Maka berilah ia ‘kabar gembira’ dengan azab yang pedih.” [QS. Al-Jatsiyah: 8]. Kalaulah orang-orang kafir tidak dapat mendengar ayat-ayat Allah sama sekali niscaya Al-Quran tidak menjadi musuh bagi mereka, dan Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention pun berarti belum menyampaikan Al-Quran kepada mereka. Namun demikian Allah berfirman tentang mereka: “seakan-akan ia tidak mendengarnya” maksudnya: mendengar untuk menjawab (menerima seruan ayat-ayat Allah).

Adapun syubhat “logis” mereka adalah semata-mata dampak buruk mendahulukan akal atas nas-nas Syariat, terutama dalam perkara-perkara ghaib yang tak dapat kita saksikan langsung dengan mata kepala. Akan tetapi kita melihatnya dengan mata hati yang berdetak dengan keimanan, yang meyakini dan membenarkan firman Allah dan sabda sebaik-baik manusia, Muhammad Maka kita tidak berkata selain seperti perkataan Hanzhalh  may  Allaah  be  pleased  with  them: “Aku berkata: Kami berada bersama Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention yang sedang mengingatkan kami tentang Neraka dan Surga, hingga seakan-akan kami melihatnya dengan mata kepala.” [HR. Muslim].

Jadi, kita melihat kepada perkara-perkara ghaib dengan mata Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention yang mengabari kita tentangnya. Karena beriman kepada hal-hal ghaib adalah sifat utama orang-orang beriman, bahwa mereka: “(Yaitu) orang-orang yang beriman kepada perkara-perkara ghaib.” [QS. Al-Baqarah: 3].

Kami katakan pula kepada mereka (Muktazilah): Adakah apa yang kalian sebutkan, yaitu kisah orang yang disalib itu lebih besar daripada orang yang dibakar jasadnya, lalu abunya tersebar oleh tiupan angin?! Diriwayatkan dari Abu Hurairah  may  Allaah  be  pleased  with  them, dari Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention bahwa beliau bersabda: “Adalah seorang lelaki yang telah melampai batas terhadap dirinya (banyak bermaksiat menzalimi dirinya). Ketika ajal datang menjemputnya, ia berwasiat kepada anak-anaknya: ‘Jika aku mati maka bakarlah jasadku, lalu tumbuklah, kemudian sebarkan (abu)ku ditiupan angin. Demi Allah, kalaulah Allah berkuasa terhadap diriku (setelah diperlakukan demikian) niscaya Dia akan mengazabku dengan azab yang tak pernah Dia mengazab seorangpun seperti itu.’ Setelah ia mati, dilaksanakanlah wasiat. Lalu Allah memerintahkan kepada bumi: ‘Kumpulkanlah bagi-bagian dari (jasad)nya yang ada pada dirimu. Maka bumipun melakukannya, dan tiba-tiba lelaki tersebut berdiri. Kemudian Allah bertanya kepadanya: ‘Apa yang medorongmu melakukan hal itu?’ Ia menjawab: ‘Wahai Tuhanku, aku takut pada-Mu.’ Maka Allah pun mengampuninya.’” Dalam riwayat lain, ia menjawab: “Lantaran aku takut pada-Mu.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].

Maka benarlah firman Allah terhadap orang-orang seperti mereka (Muktazilah): “Tetapi yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka tidak ketahui dengan sempurna, padahal belum datang kepada mereka penjelasannya. Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul). Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim itu.” [QS. Yunus: 39].

Adapun Ahlussunnah wal Jamâ`ah, mereka berargumen dengan banyak dalil yang sangat jelas dari Al-Quran, Sunnah dan perkata-perkataan para imam kaum Muslimin. Kami akan menyebutkan beberapa diantaranya:

Dalil Dari Al-Quran:

Allah berfirman (yang artinya): “Kami akan mengazab mereka dua kali, setelah itu mereka dikembalikan kepada azab yang besar.” [QS. At-Taubah: 101]. Ibnu `Abbas dan Al-Hasan berkata: “Kami akan mengazab mereka dua kali.” Adalah azab dunia dan azab kubur. [Fathul Bari].

Allah juga berfirman (yang artinya): “Dan Fir`aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang Amat buruk. Kepada mereka ditampakkan Neraka pada pagi dan petang, dan pada Hari terjadinya Kiamat (dikatakan kepada malaikat): ‘Masukkanlah Fir`aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.” [QS. Ghafir: 45-46].

Al-Qurthubi berkata: “Jumhur ulama mengatakan bahwa ditampakkannya Neraka ini terjadi di alam Barzakh (alam kubur), dan hal ini menjadi dalil bagi adanya azab kubur.” [Fathul Bari].

Dari Sunnah:

Hadits riwayat Al-Bukhâri yang telah kami sebutkan di atas sangat jelas menunjukkan adanya azan kubur.

Diriwayatkan dari Anas  may  Allaah  be  pleased  with  them, dari Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention bahwa beliau bersabda: “Seorang hamba apabila telah diletakkan di kuburnya, lalu teman-temannya pergi meninggalkannya sehingga ia bahkan mendengar suara sandal-sandal mereka, maka datanglah dua Malaikat, lalu mendudukkannya, kemudian bertanya kepadanya: ‘Apa katamu tentang lelaki yang diutus kepadamu ini?’ Ia menjawab: ‘Aku bersaksi abhwa ia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.’ Lalu dikatakanlah kepadanya: ‘Lihatlah tempatmu di Neraka, Allah telah menggantikannya dengan suatu tempat di Surga.” Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda: “Maka iapun melihat keduanya (tempatnya di Neraka dan di Surga). Adapun orang kafir dan munafik, ia menjawab: ‘Aku tidak tahu. Aku hanya mengatakan apa yang dikatakan oleh orang-orang.’ Maka dikatakanlah kepadanya: ‘Engkau memang tidak tahu dan tidak pernah membaca (Al-Quran).’ Lalu ia dipukul dengan palu dari besi satu kali pukulan di antara kedua telinganya (mukanya), sehingga iapun berteriak dengan teriakan yang didengar oleh semua yang disekitarnya, kecuali jin dan manusia.’” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].

Diriwayatkan dari Thawus bahwa Ibnu `Abbas  may  Allaah  be  pleased  with  them berkata: “Suatu ketika Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention melewati dua kuburan, lalu beliau bersabda: ‘Sungguh keduanya sedang diazab, dan tidaklah keduanya diazab karena dosa besar.’ Kemudian beliau bersabda: ‘Benar. Adapun salah satu dari keduanya, ia senang mengadu domba, sementara yang lain, ia tidak menjaga diri dari kencingnya.’ Ibnu `Abbâs berkata: ‘Lalu beliau mengambil sebuah ranting basah dan memotongnya menjadi dua bagian, kemudian menancapkan masing-masing di satu kuburan, lalu bersabda: ‘Mudah-mudahan hal itu meringkankan azab mereka selama kedua ranting tersebut belum kering.’ [HR. Al-Bukhari dan Muslim].

Berdasarkan ayat-ayat dan hadits-hadits di atas teranglah bagi Anda tentang adanya azab kubur.

Akan tetapi, apakah azab tersebut terjadi pada badan saja, ataukah terhadap badan dan ruh?

Terdapat perbedaan masyhur di kalangan para ulama tentang hal ini. Ibnu Hajar berkata: “Ibnu Jarir dan kelompok Karrâmiyah berpendapat seperti kisah ini, bahwa pertanyaan di dalam kubur terjadi pada badan saja, dan bahwa Allah menciptakan padanya kesadaran sehingga ia dapat mendengar, mengetahui, merasa nikmat dan merasa sakit. Adapun Ibnu Hazm dan Ibnu Hubairah, mereka berpendapat bahwa pertanyaan tersebut terjadi pada ruh saja, tidak ada kaitannya dengan jasad dalam hal ini. Tidak menjadi penghalang (adanya pertanyaan kubur) meski anggota badan si mayit telah terpisah-pisah. Pada saat mayit ditanya, memang terkadang tidak disaksikan adanya tanda-tanda pertanyaan, pendudukan terhadap dirinya, juga masalah penyempitan ataupun peluasan kuburnya, demikian halnya dengan orang yang mati dan tidak dikubur seperti mati disalib. Jawaban atas mereka (yang mengklaim tidak ada azab kubur dengan alasan di atas), bahwa hal itu bukan hal yang mustahil bagi kemahakuasaan Allah. Bahkan banyak contohnya dalam kebiasaan, yaitu seorang yang tidur; ia dapat merasakan kenikmatan ataupun rasa sakit, tetapi orang di dekatnya tidak mengetahui hal itu. Bahkan seorang sedang terbangun dapat merasakan sakit ataupun nikmat disebabkan apa yang ia dengar atau pikirkan, tetapi orang yang didekatnya tidak mengetahui hal itu. Kesalahan mereka (yang menafikan azab kubur itu) adalah karena mereka mengukur alam ghaib dengan alam nyata, mengukur kondisi setelah kemataian dengan kondisi sebelumnya.” [Fathul Bari].

Saya katakan: Kesimpulannya, mazhab jumhur Ahlussunnah wal Jama`ah ialah bahwa azab kubur terjadi pada roh dan juga jasad.

Apakah azab kubur itu bersifat terus-menerus atau atau terputus?

Ibnul Qayyim berkata: “Jawabannya dua macam:

Yang pertama: bersifat terus-menerus.” Lalu ia menyebut beberapa dalil tentang hal ini seperti firman Allah (yang artinya): “Kepada mereka (Fir`aun dan kaumnya) ditampakkan Neraka pada pagi dan petang, dan pada Hari terjadinya Kiamat (dikatakan kepada Malaikat): ‘Masukkanlah Fir`aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.” [QS. Ghafir: 45-46]. Dan juga hadits-hadits seputar azab kubur di atas, dan diantaranya adalah sabda beliau: “Ia akan diperlakukan seperti apa yang engkau lihat hingga Hari Kiamat.” [HR. Ahmad. Menurut Al-Albani: Shahih].

Yang kedua: Sampai pada batas tertentu kemudian terputus. Ibnul Qayyim berkata: “Yaitu azab terhadap sebagian pelaku maksiat ringan. Seseorang diazab sesuai kadar kesalahannya lalu azab tersebut diringkankan, sebagaimana halnya seseorang yang diazab di Nereka beberapa lamanya, lalu azab tersebut dihentikan. Dan bisa saja azab kubur tersebut terputus oleh doa, atau sedekah, atau istighfar, atau pahala, atau haji...dst..” [Kitab Ar-Ruh, Ibnul Qayyim].

Apakah fitnah (ujian) di alam kubur khusus bagi umat Islam?

Sebagian ulama mengatakan bahwa fitnah kubur khusus bagi umat ini. mereka berdalil dengan zahir beberapa hadits, diantaranya hadits yang diriwayatkan dari Al-Bara’ dan `Aisyah, dimana disebutkan didalamnya: “Jika seorang mukmin didudukkan di alam kuburnya dan didatangi (oleh Malaikat dan menanyainya), kemudian ia bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah rasul Allah....” [HR. Al-Bukhari].

Dan juga hadits yang diriwayatkan dari Zaid secara marfû`: “Sungguh umat ini diuji—(ditanya, dan yang tak bis amenjawab diazab)—di dalam kuburnya. Kalaulah bukan karena kalian saling menguburkan satu sama lain maka aku akan berdoa kepada Allah supaya memperdengarkan kepada kalian sebagian dari azab kubur yang aku dengarkan.” [HR. Muslim].

Dan juga beberapa hadits lainnya. Pendapat inilah yang diambil oleh Al-Hakim At-Tirmidzi. Akan tetapi Ibnul Qayyim cenderung berpendapat bahwa pertanyaan alam kubur tidak khusus (bagi umat ini). Ia berkata: “Tidak terdapat dalam hadits-hadits tersebut nas yang menegaskan tidak adanya pertanyaan kubur terhadap umat-umat sebelumnya. Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention hanya menjelaskan kepada umatnya tentang bentuk ujian mereka di alam kubur, bukan menafikan hal itu dari umat lain.”

Saya mengatakan: Pendapat Ibnul Qayyim inilah yang rajih. Di antara yang menunjukkan hal ini ialah pengetahuan orang Yahudi tentang azab kubur, dan pertanyaan mereka terhadap `Aisyah tentangnya.

Hal ini ditegaskan pula oleh sabda Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention dalam hadits tersebut: “Sesungguhnya Yahudilah yang diazab....” Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu `Utsaimin, dan beliau memberi alasan: “Jika umat ini—yang merupakan umat paling mulia—ditanya, apalagi umat-umat lain di bawanya.” [Syarh Aqidah Al-Wasithiyyah]

 

 

 

 

 

 

www.islamweb.net