Diriwayatkan dari Simâk Ibn Harb, dari `Abdurrahman Ibn `Abdullah Ibn Mas`ud, dari ayahnya (Ibnu Mas`ud) ia berkata: “Jika telah tampak riba dan zina di sebuah negeri maka Allah mengizinkan kehancurannya.” Dalam riwayat mursal Al-Hasan disebutkan: “Apabila manusia telah menampakkan ilmu dan menyia-nyiakan amal, mereka saling mencintai dengan lidah semata namun saling membenci dengan hati dan saling memutus silaturrahmi maka Allah—`Azza wajalla—melaknat mereka, dan ketika itu Allah menulikan mereka dan membutakan mata mereka.”
Diriwayatkan dari `Abdullah Ibn `Umar Ibnul Khaththab ia berkata: “Aku adalah orang yang kesepuluh dari sepuluh orang Muhahirin yang saat itu berada bersama Rasulullah . Lalu beliau menghadapkan wajah kepada kami dan bersabda: ‘Wahai sekalian Muhajirin, lima perkara yang aku mohon perlindungan kepada Allah agar kalian tidak menemukannya: Tidaklah zina tampak pada suatu kaum sampai mereka terang-terang melakukannya melainkan mereka akan ditimpa oleh wabah dan penyakit-penyakit yang belum pernah ada pada orang-orang terdahulu sebelum mereka. Dan tidaklah suatu kaum mengurangi timbangan melainkan mereka akan ditimpa paceklik, sulitnya bahan makanan dan zalimnya penguasa. Dan tidaklah suatu kaum enggan membayar zakat harta melainkan mereka akan ditimpa kekeringan, dan kalaulah bukan karena binatang niscaya tidak akan diturunkan hujan kepada mereka. Dan tidaklah suatu kaum melanggar janji melainkan Allah akan memenangkan musuh mereka atas mereka lalu merampas sebagian milik mereka. Dan tidaklah para pemimpin mereka meninggalkan hukum yang Allah turunkan di dalam Kitab-Nya melainkan Allah akan menimbulkan permusuhan di antara mereka.’ .” [HR. Ibnu Majah].
Seorang Nabi Bani Israil melihat apa yang dilakukan oleh Nebukadnessar terhadap mereka, lalu berkata: “Lantaran perbuatan tangan-tangan kami Engkau menguasakan atas kami orang yang tak mengenal-Mu dan tak mengasihani kami.” Nebukadnessar berkata kepada Nabi Daniel: “Apa yang menyebabkanku dapat berkuasa atas kaummu?” Beliau menjawab: “Besarnya kesalahanmu dan zalimnya kaumku terhadap diri mereka sendiri.”
- Keterhalangan dari ilmu, karena ilmu adalah cahaya yang Allah lemparkan ke dalam hati, sementara maksiat akan memadamkannya.
- Keterhalangan dari rezeki. Dalam kitab Al-Musnad diriwayatkan: “Sesungguhnya seorang hamba benar-benar terhalang dari rezeki lantaran dosa yang ia perbuat.” [HR. Ahmad].
- Keresahan yang dirasa oleh pelaku maksiat di dalam hatinya yang tidak disertai sedikitpun rasa nikmat. Meski ia memiliki seluruh nikmat duniawi semua itu tidak akan dapat mengobati keresahannya. Namun hal ini tidak dirasakan kecuali oleh orang yang di dalam hatinya terdapat kehidupan, sebab luka taidalah berarti bagi orang yang mati.
- Keresahan yang ia rasakan antara dirinya dan manusia, terutama kepada orang-orang yang shalih. Keresahan ini akan semakin menjadi bahkan menguasai dirinya sehingga ia merasa tidak nyaman terhadap istrinya, anaknya, kerabatnya dan kepada dirinya, sehingga engkau melihat dirinya selalu dirundung kemurungan dan keresahan. Sebagian ulama Salaf berkata: “Sungguh aku berbuat maksiat kepada Allah dan aku melihat pengaruhnya pada hewan tungganganku dan istriku.”
- Mempersulit urusan
- Kegelapan yang ia rasakan di dalam hatinya, sebuah realitas yang ia rasakan laksana gelapnya malam yang pekat.
- Maksiat melemahkan hati dan badan.
- Maksiat memendekkan umur dan menghilangkan keberkahannya.
- Maksiat akan menanam dan melahirkan maksiat-maksiat lainnya sehingga seorang hamba tak mampu meninggalkannya dan keluar darinya, sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama Salaf: “Sungguh di antara hukuman atas sebuah maksiat adalah perbuatan maksiat setelahnya, dan sungguh di antara balasan sebuah amal shalih adalah amal shalih setelahnya.”
- Yang paling mengkhawatirkan ialah bahwa maksiat akan melemahkan keinginan (baik) di dalam hati seorang hamba, lalu keinginan buruknya menguat, kemudian keinginan bertaubat melamah sedikit demi sedikit, hingga terlepas sama sekali dari hatinya.
- Perasaan buruk terhadap maksiat hilang sehingga menjadi kebiasaannya, ia merasa nyaman saja orang-orang melihat dan membicarakan dirinya bermakisat.
- Setiap maksiat adalah warisan dari umat-umat yang Allah binasakan, seperti homoseksual adalah warisan kaum Nabi Lûth, kesombongan dan prilaku merusak di atas bumi adalah warisan dari Fir`aun dan kaumnya, demikian seterusnya.
- Maksiat menyebabkan seorang hamba menjadi hina di hadapan Tuhannya. Hasan Al-Bashri berkata: “Mereka menjadi hina di hadapan Tuhannya lalu bermaksiat pada-Nya. Kalaulah mereka mulia di sisi Tuhannya niscaya Allah akan menjaga mereka (dari maksiat). Dan jika seorang hamba telah hina di sisi Allah niscaya tak seorangpun yang dapat memuliakannya. Allah berfirman dalam surat Al-Hajj (yang artinya): ‘Dan barang siapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang dapat memuliakannya’. Kalaupun secara zahir ia dimuliakan oleh manusia lantaran mereka memilki keperluan kepadanya atau takut terhadap kejahatannya, tetapi di hati mereka ia tetap saja sangat hina.”
- Seorang hamba senantiasa bermaksiat sehingga maksiat itu ia anggap ringan dan kecil di dalam hatinya, dan hal ini merupakan tanda kebinasaan.
- Orang lain dan bahkan binatang bisa mendapat kesialan lantaran dosanya, sehingga ia dan orang lain bisa mendapat celaka gara-gara dosa dan kezalimannya.
- Maksiat mendatangkan kehinaan, karena kemuliaan sejati hanyalah pada ketaatan kepada Allah—Subhanahu wata`ala. Allah berfirman (yang artinya): “Barang siapa menghendaki kemuliaan maka bagi Allah lah kemuliaan itu semuanya...” [QS. Fathir: 10]. Maksudnya, (barang siapa menginginkan kemuliaan) maka hendaklah mencarinya dengan menaati Allah, karena ia tidak akan menemukannya kecuali dengan menaati-Nya. Oleh karena itu di antara doa sebagian ulama Salaf ialah: “Ya Allah, muliakanlah aku dengan ketaatan pada-Mu dan janganlah menjadikanku terhina karena bermaksiat pada-Mu.”
Hasan Al-Bashri berkata: “Sungguh mereka, meskipun bighal (peranakan kuda dan keledai) patuh pada mereka atau kuda pedati menjadi ringan jalannya karena mereka, tetapi kehinaan maksiat tiada lepas dari hati mereka. Allah enggan selain menghinakan orang yang bermaksiat pada-Nya.”
- Maksiat merusak kejernihan akal (kematangan dan kebijaksanaan berpikir), karena akal memiliki cahaya sementara maksiat memadamkan cahaya akal tersebut.
- Apabila dosa-dosa telah menumpuk maka akan menutupi mata hati pelakunya sehingga ia tergolong orang-orang yang lalai, sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama Salaf tentang ayat dalam surat Al-Muthaffifîn (yang artinya): “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” [QS. Al-Muthaffifîn: 14].
- Maksiat menghalangi seseorang dari doa Rasulullah dan doa para Malaikat, karena Allah—Subhanahu wata`ala—memerintahkan Rasul-Nya untuk memohon ampunan bagi kaum Mukminin dan Mukminat. Allah berfirman (yang artinya): “(Malaikat-malaikat) yang memikul 'Arsy dan Malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhan mereka dan mereka beriman pada-Nya serta memohonkan ampunan bagi orang-orang beriman (dengan berdoa): ‘Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan Neraka yang menyala-nyala. Ya Tuhan Kami, dan masukkanlah mereka ke dalam Surga `Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang shalih di antara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sungguh Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dan peliharalah mereka dari keburukan...” [QS. Ghafir: 7-9].
- Maksiat menyebabkan hilangnya rasa malu yang merupakan ruh hidup bagi hati dan asas seluruh kebaikan. Hilangnya rasa malu ini akan menyebabkan hilangnya seluruh kebaikan. Diriwayatkan secara shahih bahwa Nabi bersabda: “Sifat malu itu adalah kebaikan seluruhnya.” “Sungguh di antara yang diwarisi oleh manusia dari perkataan kenabian pertama ialah: ‘Jika engkau tak punya rasa malu maka berbuatlah sesukamu.’”
- Maksiat akan melemahkan pengagungan hati terhadap Rabb Yang Mahaagung, dan pastinya, mau atau tidak mau, akan melemahkan wibawanya di hadapan makhluk.
- Maksiat menjadikan Allah tidak mempedulikan hamba-Nya dan membiarkannya selalu bersama Syetannya. Dan disitulah kehancuran yang tiada harapan selamat padanya. Allah berfirman (yang artinya): “Hai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya (di dunia ini) untuk hari esok (Akhirat); dan bertaqwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan. Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” [QS. Al-Hasyr: 18-19].
- Maksiat menghilangkan nikmat dan mendatangkan bencana. Nikmat tidak akan pergi dari seorang hamba kecuali karena dosanya, dan bencana tidak akan turun kepadanya kecuali karena dosanya pula. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh `Ali Ibn Abi Thalib : “Tidaklah bencana itu turun melainkan karena dosa, dan tidaklah bencana diangkat kecuali dengan taubat.” Karena Allah—Subhanahu wata`ala—berfirman (yang artinya): “Dan apa saja musibah yang menimpa kalian maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan kalian).” [QS. Asy-Syura: 30].
- Maksiat akan menggiring hati dari kesehatan dan kelurusan menuju keadaan sakit dan penyimpangan. Hati senentiasa sakit dan cacat, tak dapat mengambil manfaat dari makanan yang menjadi sebab hidup dan keshalihannya, karena efek dosa-dosa terhadapnya seperti efek penyakit terhadap badan. Bahkan dosa adalah penyakit hati yang tiada obatnya kecuali dengan meninggalkannya.