Islam Web

Haji & Umrah

  1. Haji & Umrah
  2. ADAB ISLAM

Menjadi Hamba yang Bersyukur

Menjadi Hamba yang Bersyukur

Allah telah menjadikan syukur sebagai pembuka perkataan penduduk Surga. Dia berfirman (yang artinya): “Dan mereka mengucapkan: ‘Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami...” [QS. Az-Zumar: 74].

Syukur adalah wasiat pertama yang Allah wasiatkan kepada manusia semenjak ia mulai berakal. Allah berfirman (yang artinya): “Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. (Maka) bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah engkau kembali.” [QS. Luqman: 14].

Kalimat kesyukuran adalah kalimat pertama yang diucapkan oleh Nabi Adam ` may  Allaah  be  pleased  with  him setelah Allah meniupkan ruh padanya, lalu ruh tersebut masuk melalui kepalanya kemudian ia bersin dan seketika itu memuji Allah (mengucap: Alhamdullah). Maka Allah menjawab pujiannya dengan berfirman: “Yarhamukallah (Semoga Allah merahmatimu).”

Ketika Iblis mengetahui betapa pentingnya kesyukuran ini ia sangat bersemangat untuk memalingkan manusia darinya dan mengancam akan mengganggu mereka dari segala sisi. Allah berfirman (yang artinya): “Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka, sehingga Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” [QS. Al-A`raf: 17].

Allah telah memuji para nabi-Nya atas kesyukuran mereka. Lihatlah rasul pertama yang diutus ke dunia, bapak manusia yang kedua, karena tak seorangpun yang hidup setelahnya melainkan berasal dari keturunannya, Nuh ` may  Allaah  be  pleased  with  him selalu bersyukur kepada Allah dalam segala kondisinya; ketika makan, minum, berpakaian, berkendara, sehingga Allah menggelari beliau sebagai `abdun syakur (hamba yang sangat banyak bersyukur). Allah (yang artinya): “(Yaitu) anak cucu (Nûh) yang Kami bawa bersama Nûh. Sesungguhnya ia adalah hamba (Allah) yang sangat banyak bersyukur.” [QS. Al-Isra': 3].

Lihatlah Al-Khalil, Nabi Ibrahim ` may  Allaah  be  pleased  with  him, Allah memuji beliau sebagai seorang imam dan teladan bagi manusia, dan bahwa beliau selalu bersyukur kepada Allah—Subhanahu wata`ala. Dia berfirman (yang artinya): “Sungguh Ibrahim adalah seorang imam dan teladan yang sangat patuh kepada Allah dan hanif [lurus]. Dan sekali-kali bukanlah ia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” [QS. An-Nahl: 120-121].

Lihatlah Nabi Musa ` may  Allaah  be  pleased  with  him, Allah memerintahkannya untuk bersyukur setelah memilihnya sebagai rasul-Nya dan memilihnya untuk menerima kalaâm-Nya. Allah berfirman (yang artinya): “Allah berfirman: ‘Hai Musa, sesungguhnya Aku memilih kamu atas manusia (di zamanmu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk menerima kalâm-Ku, sebab itu berpegang teguhlah pada apa yang Aku berikan padamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.” [QS. Al-A`raf: 144].

Lihatlah Nabi Dâwûd dan Sulaiman `Alaihimas salâm, Allah berfirman kepada mereka berdua: “Bekerjalah hai keluarga Dâwûd untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang benar-benar bersyukur.” [QS. Saba': 13].

Lihatlah rasul kita, Muhammad  may  Allaah  exalt  his  mention beliau selalu bersyukur kepada Allah dalam segala keadaan. Beliau pernah ditawarkan seluruh kerikil Mekah dijadikan emas untuk beliau, namun beliau menjawab: “Tidak wahai Tuhanku, hamba ingin lapar sehari supaya selalu berdzikir mengingat-Mu dan kenyang sehari seupaya selalu bersyukur kepada-Mu.”

Di antara sifat Umat ini ialah Umar yang bersyukur. Dalam sebuah hadits Qudsi Allah berfirman: “Wahai `Isa, sungguh Aku akan mendatangkan setelahmu sebuah Umat yang apabila mereka mendapatkan sesuatu yang menyenangkan mereka akan memuji Allah dan bersyukur pada-Nya, dan apabila mereka ditimpa sesuatu yang tidak menyenangkan mereka akan mengharapkan pahala (dengan hal itu) dan bersabar.”

Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention pernah berwasiat kepada Mu`adz agar selalu bersyukur, dan menyuruhnya untuk selalu berdoa kepada Allah supaya ditolong agar bersyukur. Beliau bersabda: “Wahai Mu`adz, sungguh aku mencintaimu. Maka janganlah setiap selesai shalat engkau meninggalkan membaca: ‘Ya Allah, tolonglah aku agar selalu berdzikir mengingat-Mu, bersyukur pada-Mu dan beribadah dengan baik kepada-Mu.”

Seluruh perkara adalah kebaikan bagi seorang Muslim. Jika ia mendapat kesenangan lalu bersyukur maka hal itu adalah kebaikan baginya, jika ia ditimpa kesusahan lalu bersabar maka hal itu adalah kebaikan baginya, dan hal ini tidak ada kecuali pada seorang Mukmin. Ketahuilah bahwa bersyukur itu adalah:

-      Dengan lisan, yaitu dengan mengucap puja-pujian yang sepatutnya bagi Allah. Nabi— may  Allaah  exalt  his  mention—pernah mendengar seseorang menucap: “Segala puji bagi Allah, dengan puji-pujian yang banyak, yang baik dan penuh berkah.” Lalu beliau bersabda: “Tiga puluh tujuh Malaikat berlomba untuk membawanya (melaporkannya) lebih dahulu (kepada Allah).” Beliau juga bersabda: “Sesungguhnya Allah benar-benar meridhai dari seorang hamba yang makan sesuap makanan lalu memuji-Nya atas hal itu, dan minum seteguk minuman lalu memuji-Nya atas hal itu.”

-      Syukur juga dilakukan dengan bersujud merendahkan diri kepada Allah. Sujud ini dinamakan dengan sujud syukur. Diriwayatkan bahwa dari Abu Bakr  may  Allaah  be  pleased  with  them bahwa Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention apabila mendapatkan sesuatu yang membahagiakan atau kabar gembira beliau tersungkur sujud.

-      Diriwayatkan dari Ibnu `Abbas, bahwa Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention bersujud ketika membaca ayat Sajdah dalam surat Shâd, lalu bersabda: “Dâwûd bersujud padanya untuk bertaubat dan bersujud padanya untuk bersyukur.”

-      Ketika beliau didatangi Malaikat Jibrîl yang menyampaikan kepada beliau: “Sesungguhnya Allah berfirman: ‘Barang siapa bershalawat kepadamu satu kali maka Allah bershalawat untuk orang itu sepuluh kali’, mendengar kabar itu beliau bersujud cukup lama, sehingga Abdurrahmân Ibn `Auf berkata: ‘Sampai-sampai aku mengira beliau wafat saking lamanya beliau bersujud.’

-      Diriwayatkan bahwa Abu Bakr  may  Allaah  be  pleased  with  them bersujud syukur kepada Allah ketika mendengar kabar bahwa Musailamah Al-Kadzdzâb terbunuh.

-      `Ali Ibn Abi Thalib  may  Allaah  be  pleased  with  them bersujud syukur kepada Allah ketika dikabarkan bahwa Al-Khariji Ibn Ats-Tsudayyah terbunuh.

-      Ka`b Ibn Malik bersujud syukur kepada Allah ketika Allah menurunkan taubat-Nya baginya.

Demikianlah seorang Mukmin, jika mendapatkan kabar gembira ia sujud memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya. Ia tidak bertepuk tangan ataupun bersiul, tetapi bertasbih (atau bertakbir) sebagaimana diriwayatkan dari para shahabat, bahwa ketika Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda: “Sungguhnya aku berharap kalian menjadi sepertiga penduduk Surga”, merekapun bertakbir...

(Selain sujud) syukur juga dilakukan dengan shalat. Diriwayatkan bahwa Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention melaksanakan shalat delapan rakaat di rumah Umm Hani’ pada hari Fathu Makkah. Sebagian pendapat menyatakan bahwa shalat itu adalah shalat syukur, dan pendapat lain menyatakan bahwa shalat itu adalah shalat Dhuha. Beliau juga bersabda tentang shalat malam (ketika ditanya oleh `Âisyah mengapa beliau berdiri shalat malam sampai kaki beliau bengkak padahal dosa-dosa beliau yang telah berlalu maupun akan datang telah diampuni): “Tidakkah aku menjadi seorang hamba yang ahli bersyukur?”

Syukur juga dilakukan dengan bersedekah kepada kaum fakir dan miskin. Nabi Sulaiman` may  Allaah  be  pleased  with  him bersedekah dengan (menyembelih) seluruh kuda perang beliau di jalan Allah (dan dagingnya dibagikan kepada kaum fakir miskin) untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Syukur juga dilakukan dengan berpuasa. Nabi Musa ` may  Allaah  be  pleased  with  him berpuasa pada hari `Asyura’ yaitu tanggal sepuluh Muharram, karena pada hari itu Allah menyelamatkan beliau dan kaumnya dari Fir`aun dan bala tentaranya. Allah menyelamatkan Mûsâ dan kaumya dari tenggelam di laut Merah sehingga beliau berpuasa pada hari itu sebagai bentuk kesyukuran. Orang-orang Yahudi pun berpuasa pada hari itu, bahkan Quraisy pun turut mempuasakannya. Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention juga selalu berpuasa pada hari itu hingga beliau wafat, dan tidak diketahui bahwa beliau sangat menekankan puasa Sunnat sebagaimana beliau menekankan puasa `Asyura’.

Puasa Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention pada hari `Asyura’ ada empat kategori: Beliau berpuasa padanya di Mekah, lalu berpuasa padanya di Madinah dan memerintahkan para shahabat untuk berpuasa padanya. Kemudian beliau tidak menekankan lagi anjuran itu setelah diwajibkannya puasa Ramadhan, sehingga puasa tersebut menjadi puasa sunnat, dan sebelum itu adalah puasa wajib. Dan sebalum wafat beliau sempat bersabda: “Kalau aku masih hidup di tahun depan maka aku benar-benar akan berpuasa pada tanggal sembilannya.” Maskud beliau, selain tanggal sepuluh beliau juga akan beppuasa pada tanggal sembilannya.

Puasa `Asyura’ sangat dianjurkan melaksanakannya, karena dengan ibadah ini Allah akan menghapus dosa-dosa satu tahun yang lalu. Cara-cara melakukannya ada tiga macam:

Pertama: Selain berpuasa pada tanggal sepuluh itu, berpuasa juga sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya, sehingga menjadi tiga hari puasa.

Kedua: Selain tanggal sepuluh, berpuasa juga sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya, sehingga menjadi dua hari puasa.

Ketiga: Berpuasa pada tanggal sepuluh itu saja.

Maka sangat dianjurkan bagi seorang Muslim untuk berpuasa padanya guna meraih pahalanya. Dan hendaklah diketahui bahwa seluruh ibadah adalah bentuk kesyukuran pada Allah.

Abu Abdurrahman As-Sulami berkata: “Shalat adalah syukur, puasa adalah syukur, semua kebaikan yang engkau lakukan adalah bentuk kesyukuran. Dan sebaik-baik (ungkapan) syukur adalah Alhamdulillah, dan setiap anggota badan berhak disyukuri (dengan menggunakannya beribadah).”

Ya Allah, jadikanlah lisan kami selalu berdzikir pada-Mu dan seluruh anggota badan kami selalu bersyukur. Jagalah waktu dan hidup kami dengan dzikir dan syukur kepada-Mu. Semoga shalawat, salam dan keberkahan selalu tercuah-limpahkan kepada Nabi Muhammad.   

Artikel Terkait

Keutamaan Haji