Orang yang baru masuk Islam (mu’allaf) ibarat anak yang baru lahir. Saat baru lahir seseorang tentu saja sangat membutuhkan perawatan dan perhatian. Agama yang kokoh ini tidak dapat dimasuki kecuali dengan cara yang lembut. Maka tidak benar seorang yang tak memiliki kemampuan dipaksa melakukan sesuatu yang berat sejak awal ia masuk Islam. Diriwayatkan dari Thalhah Ibn `Ubaidillah
ia berkata: “Seorang laki-laki dari Najed, dengan kepala penuh uban, mendatangi Nabi
. Kami mendengar gumaman suaranya namun tak dapat memahami apa yang ia katakan, hingga ia mendekati Rasulullah
dan ternyata ia bertanya tentang Islam. Rasulullah
pun menjawab: ‘Lima shalat dalam sehari semalam.’ Lelaki itu bertanya: ‘Adakah kewajibanku yang lainnya?’ Nabi
menjawab: ‘Tidak, kecuali Anda shalat sunnat.’ Laki-laki itu berbalik sambil berkata: ‘Demi Allah, aku tidak akan menambah atau mengurangi kewajiban ini.’ Maka Rasulullah
bersabda: ‘Beruntunglah ia jika ia jujur (mewujudkan ucapannya).”
Nabi
memberi jawaban kepada orang yang baru masuk Islam dengan jawaban yang sesuai kondisinya, dan dimulai dari yang paling penting. Sebab, tidak mungkin menerangkan seluruh hukum Syariat sekaligus dalam satu waktu, terutama bagi mereka yang baru masuk Islam. Inilah yang wajib dilakukan oleh mereka yang berdakwah kepada para mu’allaf.
Di antara bukti yang menunjukkan perhatian Nabi
terhadap metode bertahap dalam mendakwahi mu’allaf ialah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah
bahwa seorang Arab Baduwi mendatangi Nabi
dan bertanya: “Tunjukkan padaku amalan apakah yang jika aku mengerjakannya aku akan masuk Surga?” Nabi menjawab: “Engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, mendirikan shalat wajib, menunaikan zakat wajib dan berpuasa bulan Ramadhan.” Laki-laki itu lalu berkata: “Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku tidak akan menambahkan lebih dari itu.” Setelah laki-laki itu Nabi
bersabda, ‘Barang siapa ingin melihat laki-laki penduduk Surga maka lihatlah kepada laki-laki tadi.”
Para ulama menjelaskan: Hadits ini dan hadits-hadits semacamnya ditujukan kepada orang-orang Arab Baduwi yang baru masuk Islam. Maka telah cukup bagi mereka mengerjakan kewajiban-kewajiban yang telah ada pada waktu itu, supaya mereka tidak merasa terbebani sehingga menjadi bosan. Baru setelah dada mereka telah lapang untuk memahami Islam dan bersemangat mendapatkan pahala ibadah-ibadah sunnat, saat itulah mereka akan mudah menerimanya.
An-Nawawi
berkata: “Perintah-perintah Islam yang dibebankan bersifat gradual (bertahap). Ketika seorang yang baru masuk Islam atau hendak masuk Islam diberikan kemudahan dalam menjalankan ketaatan maka hal itu akan memudahkan baginya, dan biasanya nanti ia akan menambah ibadah-ibadah sunnah yang lain. Tetapi jika ia dipersulit maka bisa saja ia mengurungkan diri masuk Islam, dan kalaupun masuk Islam bisa saja ia tidak bertahan lama atau tidak merasa nyaman dengannya.”
Bertahap dalam belajar adalah metode yang dijalani oleh para Shahabat
. Dalam Kitab Al-Musnad diriwayatkan bahwa para shahabat
membaca dari Rasulullah
sepuluh ayat-sepuluh ayat. Mereka tidak mengambil sepuluh ayat berikutnya sampai mereka mengetahui (mempelajari) ilmu yang ada di dalam ayat-ayat itu dan mengamalkannya. Mereka berkata: “Maka beliau mengajarkan kami ilmu dan amal sekaligus.”
Membebani seorang mu’allaf dengan ibadah-ibadah yang belum mampu mereka lakukan, tanpa mempertimbangkan tahapan-tahapan dalam dakwah bisa saja menjadi sebab mereka berbalik meninggalkan Islam atau semangatnya lemah dalam berislam. Tindakan ini tentu akan menjauhkan mereka dari menerima kewajiban-kewajiban Islam. Selain itu seorang mu’allaf juga tidak seyogyanya dibebani dengan pengajaran-pengajaran jika hal itu memberatkannya. Telah maklum di kalangan para ulama bahwa jika seorang mu’allaf belum bisa mempelajari Al-Quran karena ketidakmampuannya maka cukup baginya shalat dengan membaca dzikir-dzikir sebagai ganti bacaan Al-Quran.
Al-Khaththabi berkata: “Jika tak memungkinkan bagi seseorang untuk mempelajari Al-Quran sedikitpun lantaran tabiatnya yang memang sangat sulit mempelajarinya, atau hafalannya yang sangat buruk, atau lisannya yang sangat susah mengikuti, atau menderita cacat dsb., maka dzikir paling utama setelah Al-Quran ialah dzikir-dzikir yang diajarkan oleh Nabi
seperti tasbih, tahmid, tahlil dan takbir.”
Para dai yang mendakwahi kaum Muslimin yang baru hendaknya memperhatikan pentingnya metode bertahap ini, dan hendaknya ia memahami metode Nabi
dalam hal ini, supaya dakwahnya dapat membuahkan hasil setiap saat dengan izin Allah.


Haji & Umrah
Hukum Haji
Fatwa Haji
Video



